Oleh: Iwan Januar Menegur anak adalah bagian dari mendidik mereka. Saat anak melakukan perbuatan yang tak pantas terutama melanggar hukum syara’, maka kewajiban orang tua meluruskannya. Mendidik anak bukan sekedar memberikan mereka nasihat kebaikan, tapi juga mencegah dari perbuatan tercela, bahkan saat mencapai usia tertentu orang tua diizinkan oleh hukum syara’ untuk memberikan hukuman sampai berupa sanksi fisik seperti menjewer, mencubit atau memukul. Nabi SAW. mengingatkan orang tua akan berharganya peran pendidikan yang utuh bagi #anak. ﻷَﻥْ ﻳُﺆَﺩِّﺏَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻭَﻟَﺪَﻩُ ﺧَﻴْﺮٌ ﻟَﻪُ ﻣِﻦْ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﺼَﺪَّﻕَ ﻛُﻞَّ ﻳَﻮْﻡٍ ﺑِﻨِﺼْﻒِ ﺻَﺎﻉٍ Orang tua yang mendidik anaknya lebih baik ketimbang ia bersedekah sepanjang hari dengan setengah sha (HR. Ahmad). Ada kekeliruan pada sebagian orang tua yang hampir-hampir tidak pernah menegur anak mereka dengan pertimbangan menghambat potensi dan kecerdasan anak. Ada juga yang berteori bahwa memarahi anak bisa membuyarkan miliaran sel otak anak, maka sebaiknya anak dibiarkan saja melakukan apa pun keinginan mereka, untuk kecerdasan mereka. Kepada mereka cukuplah kita sampaikan perbuatan Nabi SAW. yang bukan satu atau dua kali menegur anak-anak di bawah umur karena mengerjakan perbuatan tak patut. Nabi bahkan menegur Hasan bin Ali ra. yang memakan kurma sedekah. Padanya Beliau berkata; ﻛِﺦْ ﻛِﺦْ ﺍﺭْﻡِ ﺑِﻬَﺎ ﺃَﻣَﺎ ﻋَﻠِﻤْﺖَ ﺃَﻧَّﺎ ﻻَ ﻧَﺄْﻛُﻞُ ﺍﻟﺼَّﺪَﻗَﺔَ Kih! Kih! Keluarkanlah! Apakah engkau tak tahu bahwa keluarga Muhammad dilarang memakan harta sedekah? (HR. Muslim). Lafadz “Kih-Kih” adalah kalimat larangan untuk anak kecil dan bermakna larangan dari sesuatu yang kotor. Nabi SAW. tidak membiarkan cucunya memakan harta sedekah, meskipun kala itu sayidina Hasan masih anak-anak (ada kekhususan bagi keluarga Rasulullah SAW. tidak dihalalkan makan harga sedekah). Karenanya menegur dan meluruskan kesalahan anak, termasuk memukul adalah bagian penting dalam mendidik anak. Luqman al-Hakim, orang soleh yang namanya diabadikan dalam al-Quran, berkata, “Pukulan ayah terhadap anaknya bagaikan pupuk bagi tanaman.” Tentu saja, ada tuntunan syariah dalam menegur dan menghukum anak. Ada batas-batas yang patut dijaga oleh orang tua saat menghukum dan memarahi mereka. Berikut ini lima hal yang pantang diucapkan orang tua saat memarahi anak. 1. Mencaci mereka Kesalahan adalah kesalahan, tapi bukan berarti halal bagi orang tua mencaci maki anak. Islam mengharamkan seorang muslim mencaci maki sesama muslim. Di zaman Nabi saw. ada seorang peminum khamr yang dijatuhi hukum pidana. Kemudian orang-orang memukulinya sebagai hukuman, ketika selesai ada seseorang yang mencacinya, “Semoga Allah menghinakanmu!” Nabi SAW. menegur orang itu dengan mengatakan; ﻻَ ﺗَﻘُﻮﻟُﻮﺍ ﻫَﻜَﺬَﺍ ﻻَ ﺗُﻌِﻴﻨُﻮﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥَ Janganlah kalian berkata demikian, janganlah kalian membantu syetan merusak orang itu! (HR. Bukhari) Terkadang orang tua berlebihan dalam memarahi anak sampai mencaci maki “dasar anak gak becus”, “bodoh kamu”, dll. Ini bukan lagi ta’dib, tapi sudah jatuh pada tindakan yang diharamkan agama. 2. Menisbahkan pada pasangan “Kamu tuh kayak bapak kamu! Sama-sama lelaki nggak bener!” Nah, ada sebagian orang tua yang ketika memarahi anak lalu mengaitkan kesalahan anak pada pasangan; istri atau suami. Tindakan ini selain haram karena tak ada kaitan perbuatan satu orang dengan orang tuanya, juga menambah persoalan dengan pasangan. Pun seandainya pasangan Anda bermasalah, maka tak sepantasnya mengaitkan kesalahan anak dengan perilaku salah ayah atau ibunya. Tak boleh siapapun mengeneralisir perbuatan orang tua akan sama dengan anaknya. 3. Mengungkit kesalahan lain Entah saking kesal, atau bagaimana, ada orang tua yang hobi mengaitkan kesalahan anak dengan kesalahan lain yang sudah lewat. Hal ini tidak fair, apalagi bila anak sudah minta maaf atas kesalahan di masa lalu, juga menciptakan citra diri (self-image) buruk pada diri anak. Memori anak akan terisi bahwa dia tak pernah bisa baik di depan orang tua. Selalu salah. Selain juga anak akan memandang orang tua sebagai sosok yang tak punya rasa maaf. 4. Membandingkan dengan orang lain Kebiasaan negatif lain orang tua saat menegur anak adalah membandingkan dengan anak lain; saudara kandungnya atau anak lain. Mungkin orang tua baik, ingin agar anak mencontoh kebaikan kawannya. Namun tindakan ini membuat anak tertekan dan menghancurkan kepercayaan dirinya. Ia merasa tak punya prestasi dan kebaikan di tengah keluarga. 5. Ucapan Penyesalan “Mama nyesel banget udah ngelahirin kamu!” Wow. Ini ucapan paling buruk yang pernah dikeluarkan seorang ibu. Perkataan macam ini menandakan sang ibu tak paham konsep takdir atau qodlo dan qodar. Tak ada yang tahu akan seperti apa jalan hidup kita. Tugas orang tua hanyalah berusaha mendidik anak sebaik-baiknya, namun ada faktor lain yang tak sanggup untuk dihadirkan orang tua pada anak; hidayah. Kehadiran hidayah adalah karunia Allah SWT., bukan otoritas manusia. Bahkan Nabi SAW. pun diingatkan oleh Allah tentang hidayah. Sesungguhnya engkau tak bisa memberikan hidayah pada orang yang engkau cintai, tetapi Allah jualah yang memberikan hidayah pada siapa yang Ia kehendaki (TQS. al-Qashshash: 56) Hindari perkataan seperti itu, bagaimanapun beratnya ujian yang dihadapi orang tua dalam mendidik dan membesarkan anak, agar semua amal tak sia-sia pahalanya. Tetaplah bersabar menahan perkataan buruk seperti ini. Menangis dan memohon kebaikan untuk keluarga lebih baik di sisi Allah SWT. Ayahbunda yang dirahmati Allah, ingatlah, menegur anak ditujukan untuk mendidik dan memperbaiki kesalahan mereka, bukan untuk menghancurkan hati dan akal mereka. Belajarlah menahan diri dari perkataan yang buruk, dan mulai menata emosi dan perkataan agar tujuan menegur anak tercapai.