(Barisan Emak-Emak Militan) Oleh: Sekar Kedaton Sepanjang berbagai aksi umat Islam dalam rangka membela Islam seperti aksi 212, 411 hingga 299 selalu ada fenomena menarik yang kerap menjadi perbincangan warga. Apalagi kalau bukan fenomena turunnya ibu-ibu musliman setengah baya hingga nenek-nenek untuk ikut menyemarakkan aksi-aksi umat Islam. Menjadi fenomena karena sebelumnya tidak pernah terjadi, bahkan dulu kaum ibu justru marah jika ada aksi-aksi demo. Namun sekarang dengan adanya kondisi sosial politik yang kian tidak menentu dan cenderung diskriminatif terhadap Islam dan kaum muslimin, akhirnya kaum #ibu yang biasa beraktivitas seputar dapur turun jalan dengan teriakan lantang bela #Islam. Tidak hanya sampai disitu, gerakan kesadaran politik ibu-ibu muslimah ini bahkan secara sosiologis telah diakui bahkan diangkat derajatnya sebagai pengganti Badan Eksekutif Mahasiswa [BEM] yang hampir mati menjadi BEM tapi akronim dari Barisan Emak-Emak Militan. Gerakan Neo-BEM ini bahkan telah masuk dapur istana, hingga sang presiden mengingatkan kaum ibu-ibu PKK untuk tidak jadi kompor jelang pemilu ini. Hidup Emak-Emak. Apakah fenomena bangkitnya emak-emak merupakan kesadaran fundamental atau sekedar trend ibu-ibu sosialita. Sebagai salah satu orang yang aktif dalam pergerakan dan aksi-aksi bela Islam, saya melihat belum semua kaum emak-emak ini melakukan gerakan yang fundamental, bahkan masih banyak yang karena euforia. Tapi tak apa, semua adalah proses pematangan. Menghubungkan antara bangkitnya emak-emak dalam perjuangan membela Islam, saya membagi emak-emak menjadi lima level. Ingat level ini bukan hal negatif, hanya sebuah gambaran akan kondisi dan cara untuk naik level, jika mau. LEVEL SATU : DOMESTIK KONSERVATIF. Level satu ini adalah kaum ibu muslimah yang melihat dan mengetahui dinamika sosial #politik bangsanya, merasa takut dan khawatir akan nasib bangsa dan generasi, namun tetap memilih tinggal di rumah untuk menyelesaikan tugas-tugas domestiknya seperti memasak, mengurus keluarga dan menjaga rumah. Meski mereka sedih melihat kondisi bangsanya, namun mungkin baru bisa berdoa, belum bisa ikut terjun ke lapangan perjuangan yang lebih nyata dan beresiko. LEVEL DUA : DOMESTIK AKTIVIS. Level dua adalah ibu-ibu muslimah yang selain mengutamakan kewajiban rumah tangganya, namun dia juga memilih untuk berkontribusi di masyarakat tempat tinggalnya untuk peduli terhadap kondisi masyarakatnya. Dia andil dalam berbagai kegiatan sosial, ekonomi dan budaya di kampungnya karena keterpanggilan jiwanya. Mulai dari menghadiri berbagai pengajian, mereka juga memberikan pendampingan, pembinaan dan pemberdayaan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya. LEVEL TIGA : POLITIS PRAGMATIS. Emak-emak level tiga adalah ibu-ibu muslimah yang memperluas kriprah selain sebagai ibu rumah tangga, peduli kepada masyarakat sekitar namun juga ikut andil dalam kancah perpolitikan praktis di level yang lebih luas. Level satu dan dua mungkin masih aman, namun level tiga ini harus sudah bersentuhan dengan berbagai aturan yang sering kali bertentangan dengan agama. Emak-emak level tiga ini telah mencoba merebut berbagai level kekuasaan politik melalui berbagai partai dengan menjadi struktural di level bawah hingga menjadi anggota dewan, menteri dan bahkan presiden jika bisa. Di level tiga ini tidak semua baik menurut agama, namun inilah faktanya. Sebab jika telah bersentuhan dengan partai politik, seringkali idealismenya akan runtuh dan berubah menjadi pragmatis belaka. LEVEL EMPAT : POLITIK IDEALIS. Emak-emak level empat ini mungkin secara umum yang cocok untuk menyebut kaum muslimah yang sering ikut aksi turun jalan mengkritisi ketidakadilan penguasa. Emak-emak level ini lebih tinggi dari muslimah yang terlibat partai politik praktis, karena mereka bergerak tidak dibayar dan bahkan menanggung resiko di tangkap oleh penguasa, seperti contoh Asma Dewi. Meski harus diakui, idealisme mereka juga seringkali belum totalitas untuk Islam, seringkali masih karena figuritas. Saya tempatkan pada level empat karena selain tidak dibayar, beresiko juga karena berani meneriakkan kebenaran di depan rezim penguasa. Level empat ini dulu ditempati para mahasiswa, tapi karena mereka sedang sekarat, maka digantikan oleh barisan emak-emak militan. LEVEL LIMA : POLITIS IDEOLOGIS. Jika di setiap aksi-aksi bela Islam barisan emak-emak militan dengan ciri khasnya berpakaian gelap dan berkacamata hitam [kadang juga masih selfie-selfie di tengah aksi], namun peran mereka sangat penting dalam memperlancar aksi dengan menyediakan berbagai akomodasi gratis bagi peserta aksi. Emak-emak level lima adalah mereka yang telah mengedepankan intelektual dalam memberikan solusi atas permasalahan bangsa. Emak-emak ini melakukan edukasi politik Islam sekaligus melakukan berbagai aksi di lapangan. Emak-emak level ini memahami secara mendalam bahwa masalah negeri ini bukan sekedar soal pemilu dan presiden, namun memahami bahwa sistem kapitalisme dan komunisme adalah biang kerusakan bangsa ini. Emak-emak ini melakukan aksi-aksi bela Islam dengan menawarkan Islam Kaffah sebagai solusi negeri ini dan membuang jauh ideologi kapitalisme sekuler dan komunisme atheis. Ini sekedar analisa sederhana dari saya, semoga menjadi renungan bagi emak-emak seluruh Indonesia. Sebab jika ada aksi bela Islam khusus emak-emak dan mampu mengumpulkan 5 juta peserta, mungkin aka upn mampu mengubah negeri ini menjadi lebih Islami, sebab para penguasa akan melihatnya ibu-ibu mereka sedang memberi nasihat kepada anak-anaknya untuk kembali kepada Allah dan RasulNya. Tetap semangat ya mak. Yogjakarta, 04/10/17 16.30 WIB