Oleh: Satria Baja Hitam (Muhamad Mulkan Fauzi) Konten yang akan kamu baca ini agak sedikit frontal dan vulgar. Mungkin kamu akan berpikir, “Ih Jorok!” dan lalu menganggap saya orang yang anu. Tidak apa-apa. Saya cuma pengin ngasih tau ke kalian bahwa hal yang akan saya tuliskan di bawah ini benar-benar ada! Dan sebelum kamu merasa jorok, saya akan tuliskan dulu fenomena-fenomena #hijab, buat membuka pikiran kamu. Saya pernah menulis sebuah monolog fiksi (17 April 2015) seperti ini, Monolog: Jangan Sampai Cantikmu Jadi Musibah Untukmu “Dik, ini harus kakak ceritakan. Kakak benar-benar bahagia melihat perubahan yang kentara pada dirimu. Ini menandakan bahwa memang hidayah Allah datang tanpa diduga-duga. Bukanlah maksud, kakak ingin meminta satu hal. Tolong, hapus foto-fotomu di sosial media. Sepertimu, dik, kakak juga seseorang yang berubah. Kakak juga seorang yang berhijrah dan senantiasa mematut diri agar lebih baik di hadapan Allah. Akan kakak beritahu engkau satu hal, di internet, di sebuah forum, kakak pernah menjadi anggota. Meskipun anggota pasif, tetapi kakak rajin mengunjungi forum tersebut. Tahu apa yang ada di sana, dik? Kakak sebenarnya malu mengatakan ini padamu, karena ini adalah aib, karena ini adalah bau busuk yang selama ini kakak berusaha tutupi. Tapi demi kebaikan, demi engkau, demi dakwah! Akan kakak sampaikan ini. Bagi pandangan kami, lelaki, wanita adalah keindahan. Allah telah menuliskan itu dalam Al-Quran. Memandang wanita adalah suatu kebahagiaan yang tak terkira. Tetapi di sisi lain, wanita juga menjadi ahli waris dari fitnah. Dan itu yang akan terjadi padamu jika kau abaikan ini. Kakak minta maaf sebelumnya, bahasanya akan sedikit tak enak didengar. Jorok. Di forum tersebut, ada topik berjudul ‘Tukeran bahan coli yuk!’ dan adik tahu isinya apa? Foto-foto wanita! Kakak bilang wanita, berarti semua wanita. Termasuk mereka yang menamai diri dengan sebutan ‘akhwat’, kumplit dengan hijab syar’inya. Mereka yang melihat foto itu bilang, ‘Lagi, suhu. Yang ketutup gini lebih bikin penasaran. Lan-crot-kan.’ Mereka yang mengunggah pun berujar, ‘Stok foto cewe berjilbab masih banyak, gue ambil di facebook sama instagram ha ha.’ Dik, ini benar-benar terjadi. Kakak melihat sendiri. Itu baru foto, belum video-videonya. Kenapa kakak ceritakan ini padamu, karena kakak sayang dunia-akhiratmu, kakak berusaha menghindarkan api neraka daripadamu, dan ibu, dan ayah;keluarga kita. Kakak tak tahu bagaimana menyampaikan fakta gila ini pada khalayak, maka kakak ceritakan ini padamu, adikku, dengan harapan bahwa engkau bisa menyampaikan fakta ini kepada teman-temanmu, kepada sahabat-sahabatmu. Agar kalian bisa sama-sama menjaga diri dari hal-hal di luar sepengetahuan kalian. Dik, jangan sampai cantikmu jadi musibah untukmu. Tutup auratmu, hapus fotomu.” Dapat pesan yang ingin saya sampaikan? Monolog di atas hanya ilustrasi saja. Niat saya, dulu, buat mengingatkan pake cara halus. Tapi gak mempan, ternyata. Hvft. Yaudah, saya frontalin aja. Sekarang. Sebetulnya, sudah lama saya ingin utarakan alasan, kenapa saya menulis tulisan di atas. Tetapi entah berapa kali niat itu terurungkan karena khawatir akan muncul silang pendapat yang tidak sehat antara jama’ah selfieyah dengan alasan-alasannya dan jama’ah atuhlah … juga dengan alasan-alasan sendiri. Selfie itu urusan masing-masing! Atuhlaahh.. jangan #selfie, nanti dianuin orang fotonya. Saya termasuk jama’ah atuhlah. Saya peduli sama kamu, iya kamu. Apalagi kalau kamu itu perempuan yang, beuh, kerudungnya lebar berkibar-kibar. Kalau udah sanggup, mah, dinafkahin dah. Mungkin memang, hijab tidak senantiasa menggambarkan akhlak pemakainya. Tetapi setidaknya, jangan menjadi pemicu munculnya anekdot-anekdot yang tidak mengenakkan telinga, “Yang berhijab belum tentu baik. Mending hijabi hati dulu, deh.” Saya tidak akan membahas mengenai hukum dari hijab, sudah banyak yang bahas. Sumber: satriabajahitam.com