(Fenomena Tema Pernikahan di Media Sosial) Oleh: Nina Mariana Pengamat adalah salah satu profesi yang dilakoni sebagian orang di dunia ini. Baik pengamat politik, pengamat pendidikan, pengamat ekonomi dan sebagainya. Namun mungkin kita tidak sadar bahwa kita pun sebenarnya seorang pengamat dalam arti umum semenjak kita dilahirkan. Kemampuan merangkak, berjalan dan berbicara bukankah kita dapati dari proses mengamati. Menjadi pengamat juga merupakan amanah bagi seorang mukmin. Di dalam Al Quran kita sering menemui ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk mengamati, ya mengamati tanda-tanda kebesaran Allah tentunya. Well bradah! sistah! bagi saya pribadi pekerjaan mengamati juga menjadi sebuah kebiasaan tersendiri baik di sadari atau tidak. Tidak usah jauh-jauh bahkan status-status di medsos pun menjadi sebuah pengamatan yang menarik bagi saya. Namun, saya sadar pengamatan ini bisa berdampak dua hal;positif atau negatif. Positif jika saya dapat mengalokasikannya sebagai bahan tafakur untuk menyadari tanda-tanda kebesaran Sang Pencipta. Negatif jika itu membuat kita hasad, suudzan dan berbagai akhlaq buruk lainnya. Tentunya sebagai seorang mukmin kita tahu apa yang harus kita pilih. Ngomong-ngomong tentang status-status di medsos dan sebagai salah satu ahlu medsos (hehe) saya menemukan fenomena-fenomena menarik tentang tema-tema yang terkandung dalam tulisan-tulisan ahlu medsos. Tentu isi status-status di medsos amat beragam;dari mulai curcol, kata-kata motivasi , nasihat, bahkan sampai resep masak. Nah, untuk curcol sendiri baik berbentuk langsung atau sekedar majaz dan kiasan temanya juga beragam. Namun dari sekian tema yang paling saya soroti adalah masalah #cinta, #jodoh, pernikahan selain karena tema-tema ini juga yang paling saya sering temui lewat di beranda (hahaha) Namun yang akan saya bahas kali ini adalah tentang tema pernikahan. Ya, kita tahu bahwa tiga tema tadi amat sangat berkaitan dan tema pernikahan adalah muara dari dua tema lainnya.Well, tentang tema pernikahan ini, ada dua sumber ahlu medsos yang saya amati yaitu mutazawijer (Sebutan saya untuk yang sudah menikah) dan para Jofisa (Jomblo fi sabilillah hahaha) Lalu fenomena atau masalah yang saya angkat diantara mutazawijer dan jofisa ini tentang status mereka yang bertema pernikahan. Tidak ada asap kalau tidak api, selalu ada sebab dari segala kejadian begitu pula dari sebuah status. Bismillah mari kita renungkan! Mutazawijer ini juga beragam, saya selalu kagum terhadap para mutazawijer ini. Benarlah firman Allah yang mengatakan bahwa mutajazawijer ini merupakan salah satu dari tanda-tanda kebesaran Allah (bahasa saya). Dari mereka kita belajar banyak hal, tentang keberanian, kesungguhan, cinta, ketaatan dan berbagai energi positif lainnya. Bagi saya merekalah penyinta sejati, tentu karena sertifikat halal yang sudah mereka juangkan dengan ketaatan kepada Allah. Karena para realitanya banyak pula orang-orang yang tidak seberani mereka dalam memperjuangkan sertifikat halal itu. Lebih-lebih lagi para mutazawijer muda makin menambah rasa kagum saya, ini nih yang nama mujahid sejati berani mengambil amanah sedini mungkin dan mempersempit peluang setan yang keji, keren! MasyaAllah!. Dari sekian pengalaman (bukan berarti saya sudah menikah berkali-kali wkwkwk) maksud saya pengalaman teman-teman yang sudah mendapat gelar mutazawijer yang sering curcol dengan saya hahaha, oh ya.. FYI (yang tidak penting) bradah! sistah! Saya memang punya hobi mendengarkan cerita begitu pula curcolan sahabat-sahabat saya (khusus akhwat ya wkwkwk) meski tidak bisa memberi solusi minimal saya bisa mengambil hikmah dari cerita-cerita mereka buat bekal di masa depan (hihihi). Okay back to the topic! Ya, dari pengalaman-pengalaman itu saya tahu bahwa proses yang di alami kawan-kawan saya ini beragam ada yang manis dan simple, ada yang bergelombang penuh karang, ada juga yang dramatis dan berdarah-darah (plaak! Lebay) Tapi alhamdulillah semua dapat mereka lalui dengan baik bi iznillah. Ternyata, selain keren para mutazawijer juga amat sangat baik, kebahagian yang mereka rasakan setelah menikah tidak ingin mereka rasakan sendiri tapi ingin dibagikan juga kepada kawan-kawan mereka khususnya para jofisa (hihi). Dan jadilah sebagian atau kebanyakan dari mutazawijer ini menjadi Jurkam. Apaan tuh jurkam? (Elah! Masa nggak tahu) Jurkam alias Juru Kampanye. Kampanye apa? Gubernur Jakarta? Bukanlah! tapi kampanye pernikahan tentunya. Memang salah jadi juru kampanye #nikah? Tidak! Tidak sama sekali! Bahkan Saya amat mendukung seratus persen. Bukankah mengkampanyekan nikah juga bagian dari dakwah dan amar ma’ruf apalagi di zaman kita yang amat mengenaskan, disaat berbagai hubungan menyimpang dilegalkan (Naudzubillah). Menikah adalah solusi terbaik, begitu pun ia adalah sunah maka bukan hanya baik tapi wajib dikampanyekan! Namun.. masalahnya adalah bukan pada kampanyenya tapi cara yang digunakan dalam berkampanye tersebut. Mari renungkan ayat ini! “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (Q.S An-Nahl :125) Nah inilah adab-adab yang harus kita perhatikan dalam berdakwah. Dan otomatis ini juga adab-adab yang harus kita perhatikan saat mengkampanyekan pernikahan. Saya melihat banyak fenomena dalam cara berkampanye para mutazawijer ini khususnya di medsos yang saya simpulkan memiliki dua kemungkinan;Positif atau negatif atau bahasa saya sederhananya adalah memotivasi atau malah membulli (ih.. serem ya). Sebelum itu saya akan jabarkan beberapa contoh bentuk kampanye yang saya temui di medsos; 1. Nasihat tentang pernikahan, ini tentu amat sangat baik bahkan favorit bagi saya karena selain menambah #ilmu juga memberi energi positif 2.Postingan foto mutajawizer dengan pasangan, well saya tidak banyak komentar karena ini sah-sah saja dan hak mutajawizer yang sudah halal selama masih di batas norma-norma kesopanan. lain lagi kalau sudah muncul dengan pose-pose yang kurang pantas diliat sehingga kadang membuat yang melihatnya geli sendiri, tapi itu kembali pada pandangan masing-masing. 3. Sindiran halus atau tajam yang biasanya dituliskan para mutazawijer di komentar status para jofisa. Nah untuk yang ini paling saya soroti bukan hanya karena saya juga kadang jadi korban (hahaha) Eits! Jangan salah, jofisa bukan hanya menjadi korban kok tapi juga bisa jadi pelaku untuk membuli sesama temannya yang jomblo, saya pun termasuk (hahaha) tapi astaghfirullah, saya memohon ampun kepada Allah atas kelalaian saya tersebut mudah-mudahan ini jadi pembelajaran bagi kita semua dan saya khususnya. Ternyata saya baru menyadari bahwa komentar-komentar sindiran untuk menikah atau sekedar menanyakan kapan nikah itu alih-alih menjadi motivasi malah menjadi bentuk pembulian yang berdampak psikologis. Saya tahu pasti teori saya ini akan di komentari: "tergantung niat dong”, “kan cuman iseng” “ngemotivasi kok bukan membully” “saya cuman bercanda jan“gan dianggap serius!”. Well, I know that bro! sis! Sure! very well! Tapi realita yang kita temukan dilapangan tenyata berbeda, miris memang tapi keisengan-keisengan kita itu ternyata juga memang bisa membuat seseorang jadi down, tidak percaya diri, minder dan galau berkepanjangan bahkan menjadi pribadi yang tidak produktif karena tekanan batin yang dideritanya (cieee, pengalaman niyee!) tentu efeknya berbeda-beda bagi setiap orang ada yang parah ada yang ringan. Apa buktinya? Yang paling nyata tentu adalah status para jofisa. Coba saja diperhatikan status para jofisa yang berisi keluh kesah dan kegalauan! Itu adalah bukti indikasi (hehe). Dan status bisa saja hanya sebuah fenomena gunung es, karena kita tidak tahu sebesar apakah penderitaan yang diderita para jofisa di kedalaman hatinya. Asal tahu saja, jofisa ini bukannya tidak mau menuruti nasihat-nasihat para jurkam ini buat menikah tapi terkadang ada hal-hal yang menjadi kendala baik bersifat umum atau pribadi yang menahan mereka untuk memilih langkah agung ini. So, memanas-manasi hanya akan menambah beban pagi para jofisa ini (kasiaan) karena yang mereka butuhkan adalah solusi. Tentu saya tidak murni menyalahkan para pelaku keisengan ini namun sekali lagi saya katakan, bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati, bukankah ayat diatas lebih utama untuk kita amalkan, bukankah diam atau berkata baik lebih menyejukan, bukan lebih baik menjadi air yang menumbuhkan tanaman dan bebungaan daripada menjadi sulut yang membakar dan menghanguskan. Selalu ada pilihan yang terbaik diantara yang baik. Indahnya saat kita dapat memotivasi dengan hikmah dan perkataan yang baik dari pada iseng-iseng berakhir bully! Dan untuk kita para Jofisa! Masyaallah! Betapa kagumnya saya kepada kalian tidak kalah dengan kekaguman saya pada mutazawijer. Bradah! Sistah! dari kalianlah saya belajar tentang keteguhan, keikhlasan, ketegaran, ketaatan (kok kayak lagu ya) dan segala energi positif. Kalianlah mujahid sejati disaat zaman ini penuh dengan lembah keji dan nista, kalian tetap sanggup bertahan untuk menjaga kesucian diri dan jiwa, percayalah akhlak kalian ini adalah salah satu dari tanda kebesaran Allah yang nyata. Sebab kalian adalah para muda mudi yang dijanjikan naungan-Nya di hari kiamat karena begitu istiqomah dalam mengejar ilmu, mengkaji al-quran, dan memaksimalkan potensi untuk produktif dan berkaya. Kalian luar biasa! (cieee) Namun, jofisa jangan ge-er dulu ya! Apalagi karena mentang-mentang sudah dipuji dan dibela dari keisengan para pembulli (hehe). Ingat kata bang Napi “ Kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat pelaku, tapi kejahatan bisa terjadi karena ada kesempatan, waspadalah!” So, jadi korban pembullian itu juga bukan murni karena niat keisengan pelaku saja tapi karena kita membuka peluang dan kesempatan untuk di bulli. Peluang itu adalah kelemahan iman, sekeren-kerennya dan sekokoh-kokohnya kita tetap iman itu bisa melemah, layu bahkan kering kerontang saat tidak dipupuk disiram. Kelemahan iman itu yang membuat kita mudah galau dan terluka. Iman adalah benteng kita. Maka Jadikanlah iman kita seperti layaknya pohon kurma yang akarnya kokoh menancap, batangnya tinggi menjulang, daunnya lebat, buahnya ranum dan bermanfaat. Kuncinya? Pupuk! Siram! Iman yang kuat menjauhkan kita dari angan-angan yang berkepanjangan. Alih-alih cuman bermimpi mendapatkan si doi yang kita idam-idamkan (ciee), mukmin sejati akan fokus untuk memperbaiki diri dengan ilmu dan amal. Dengan begitu bukankah hari-hari kita menjadi lebih menyenangkan dengan produktivitas dan karya sambil menanti sang jodoh datang. Terkadang tekanan batin yang kita derita bukan hanya karena dibulli tapi karena ekspetasi kita yang berlebihan alias banyak mengkhayal tanpa aksi. Well, cinta itu fitrah bradah! Sistah! mengharapkan si doi jadi pedamping halal kita juga wajar , mendoakan nama si doi juga no problem, yang jadi masalah kalau kita melakukan satu aksi yang menodai kesucian cinta kita dengan tindakan yang melanggar syariat-Nya, sungguh amat sayang!. Tapi bradah! Sistah! kita pun tetap harus waspada dengan si doi jangan sampai segala perbaikan diri kita hanya diniatkan untuk si doi bukan Allah, apalagi jika sampai tega menghujat Allah kalau kita ternyata tidak berjodoh dengan si doi, astaghfirullah! Berharap, berdoa tentu saja boleh selama diiringi dengan kepasrahan kepada Allah tentang takdir yang terbaik, begitu pun selama kita mengusahakan yang terbaik. Jangan sampai kita banyak berharap dan berdoa tapi lupa untuk memperkaya diri dengan ilmu. Mari telisik lagi hati kita yang terdalam, tanyakanlah! Apa arti pernikahan untuk kita? Apa niat kita untuk memilih jalan agung ini? Jangan-jangan cuman sekadar karena tren yang kalau tidak ikutan tidak gaul, atau jangan-jangan sekadar karena gengsi yang merupakan bentuk amarah dari bulian teman-teman kita, atau jangan-jangan hanya untuk sekedar bisa pamer foto dengan pasangan halal. Mari telisik hati kita dengan kejujuran! Sudahkah kita berniat karena Allah, sudahkah kita berniat untuk menjaga kesucian, sudahkah kita berniat untuk membangun rumah tangga yang Allah harapkan. Ingat niat kita adalah penentu dari hasil yang kita peroleh, sekadar dunia atau dunia dan akhirat. Niat juga butuh realisasi yang baik. Realisasi yang baik hadir dengan ilmu. Hmm.. seberapa banyak ilmu yang kita peroleh? Berapa buku tentang pernikahan dan parenting yang kita baca? Berapa kajian yang kita ikuti? Sejauh mana kita mempersiapkan diri untuk menjadi mutazawijer yang baik. Iman dan niat itulah yang menjauhkan jika dari virus gegana alias gelisah, galau, merana. Istafti qalbak! Apakah status yang berisi kegalauan itu meringankan kita atau malah makin membuat kita menderita. Istafti qalbak! Apakah status kita yang galau itu menghentikan pembullian atau malah mengundangnya semakin parah. Istafti qalbak! Karena nurani adalah salah satu penasihat terbaik. Pernikahan begitu suci dan agung. Amat menyedihkan kita hanya menganggapnya sebagai sebuah ajang gengsi, pamer dan perlombaan. Menyegerakan kebaikan tentu wajib tapi tidak harus dengan tergesa-gesa. Saat kita memang siap mari kita rayakan dengan sucinya pernikahan, jangan menunda-nunda hingga setan mengambil kesempatan! Jika belum siap mari membentengi diri dengan iman dan ketaatan. Kesimpulannya adalah “Inna akromakum ‘indallahi atqakum” yang paling mulia diantara kita adalah yang paling bertakwa apapun status kita baik mutazawijer atau jofisa. Mari berlomba meraih gelar takwa itu dengan berikhtiar sebaik-baiknya, dengan keimanan yang terealisasi bukan hanya dalam keyakinan namun juga dalam perkataan dan perbuatan. Uushikum lii wa lakum bi takwallah! Ketahuilah yang menulis ini juga jofisa eh! Maksudnya si penulis juga merupakan insan yang amat jauuh dari kesempurnaan, insan yang juga mudah lupa dan terlena, insan yang mengetahui bahwa saat jari telunjuknya menunjuk orang lain sesungguhnya empat jemarinya tengah menunjuk dirinya, insan yang dengan sadar tahu bahwa saat ia menancapkan panah pada orang lain ia menancapkan ribuan panah pada dirinya sendiri. Maka dari itu, bradah! sistah! ingatkan selalu saya agar tidak menjadi pribadi yang jumawa merasa diri lebih baik dari yang lainnya, ingatkan saya dengan bila ada ucap, tingkah dan laku saya yang salah dengan hikmah dan perkataan yang baik, bantah saya juga dengan cara yang baik, kalau tidak mempan doakanlah hidayah untuk saya. Dan mohon maaf jika tulisan ini tidak berkenan baik sengaja atau tidak. Allahu yahdiina ilaa sawabith thariq, wallahu a’lam bis shawab