Bagiku, #benar dan #salah ditentukan oleh Allah SWT melalui Al-Qur'an, sebagai kalam-Nya (perkataan/firman-Nya). Namun bagi sebagian orang atau bahkan kebanyakan orang, benar dan salah ditentukan oleh #faktor-faktor sebagai berikut: Habit (Kebiasaan) Setiap orang tahu bahwa bila kesalahan yang dilakukan berulang kali maka akan berakibat kesalahan tersebut tidak akan dianggap lagi salah. Bahkan akan menjadi dasar pembenaran dan orang menganggapnya sah-sah saja. Contoh disekitar kita adalah prostitusi yang dibenarkan oleh sebagian orang yang sudah terbiasa melakukan prostitusi tersebut, bahkan mereka membela mati-matian agar dapat perlindungan hukum dari pemerintah. Materi Materi atau harta, selalu disimpulkan sebagai spekulasi pembenaran sebuah masalah, tak pelik bila dengan materi, dalam kasus-kasus kejahatan besar materi selalu dijadikan sebuah alat untuk menyewa pengacara yang mahal, berbakat dan berpengalaman dalam bidang hukum. Contoh kecil sering kita jumpai dijalanan, bila seseorang berkendara motor, lalu ia tidak membawa surat-surat berkendara, kemudian polisi memberhentikannya, dan apa yang terjadi adalah menyelesaikan masalah sepele ini dengan materi, begitulah seterusnya. Dalam kasus lain seperti dalam rumah tangga, tempat kerja dan tempat lainnya, materi menjadi hal yang utama yang dikedepankan untuk menjadikan sebuah pembenaran. Larangan Mengapa sebuah larangan dapat menentukan benar dan salah? Sebuah permasalah yang dianggap salah, kemudian tidak ada seorang pun yang melarang, secara otomatis hal tersebut akan dibenarkan, tanpa harus membuktikan bahwa hal tersebut adalah benar. Contoh kasus di lampu merah jalan raya, para pengendara bermotor berhenti karena lampu merah, namun bila jalur hijau tidak ada yang kunjung lewat, maka jalur lampu merah selalu berusaha menyebrang tanpa menunggu jalurnya hijau terlebih dahulu. Jika tak ada yang melarang seperti ini, maka dapat dipastikan ini akan menjadi alat pembenaran bahwa melintasi lampu merah itu boleh. Contoh lain dalam agama, berpacaran itu tidak boleh terkecuali bila sudah menikah. Yang terjadi sekarang malah kebanyakan anak-anak pesantren lah yang berpacaran, padahal mereka sendiri tahu bahwa pacaran itu haram. Namun karena tidak ada seorang pun yang melarang tindakan mereka, dan para guru pun acuh tak acuh, maka bagi mereka pacaran itu boleh, dengan dalih guru yang mendukung dan hanya diam saja saat melihat mereka pacaran. Dukungan Hampir tidak jauh beda dengan larangan, faktor dukungan juga menjadi penunjangn yang kuat dalam sebuah pembenaran. Pendukung terbanyak maka dialah yang benar. Contoh kecil sekitar rumah, adalah bila seorang wanita tidak memakai hijab atau jilbab atau tidak menutup aurat, kemudian tetangga yang lain melakukan hal serupa, maka sangat besar kemungkinan bahwa mereka yang pertama kali tidak menutup aurat itu akan merasa dirinya benar dan dibenarkan oleh para tetangga yang lain, karena mengikuti termasuk sebuah dukungan terhadap apa yang terjadi disekitarnya. Pengaruh Sebuah pengaruh dapat mengendalikan sebuah sosial, bahkan secara global. Jika sebuah media menampilkan sesuatu yang sebenarnya tidak sopan, lalu orang yang melihatnya terpengaruh atau malah mengikuti, maka hal tersebut tidak akan lagi dikategorikan sebuah kesalahan. Contoh girl-band yang selalu tampil di media televisi dengan penampilan tidak sopan, dengan mempertontonkan betis dan paha mereka berlenggak-lenggok di panggung, supaya para penonton terpengaruh oleh mereka. Dan memang hal tersebut adalah sebuah daya tarik yang luar biasa hingga tak sedikit penonton yang kebanyakan #anak sekolah yang terpengaruh dengan dandanan seperti itu. Dan makin aneh lagi, para orang tua juga terpengaruh, karena mungkin merasa tertarik juga, membiarkan anak-anaknya seperti itu. Maka anak-anaknya akan menganggap hal tersebut sah-sah saja dan hal tersebut dibenarkan. Contoh lain adalah di dunia politik, dan mungkin itu terlalu luas untuk dibahas, tapi secara garis besar mereka berjuang bukan untuk sebuah dukungan, tapi juga untuk sebuah pengaruh agar dapat mengendalikan sosial secara global. Jasa Saat seseorang sudah berjasa kepada kita, rasanya kita sulit untuk menolak kebijakannya. Ketika orang yang berjasa itu berbuat kesalahan, rasanya kita takut untuk menegurnya atau meluruskannya. Bagaimana tidak, sebuah jasa bisa saja menjadi faktor yang dapat menentukan benar dan salah. Kita ikut membenarkan tindakan orang yang berjasa walaupun salah, untuk sekedar membalas budi dan membayar hutang jasanya terhadap kita. Faktor ini sering kita jumpai disekitar kita, termasuk rumah tangga, atau seorang anak berhutang jasa terhadap orang tuannya. Keterpaksaan Sangat mungkin bila kondisi yang terpuruk dan tergencet oleh kemiskinan dapat menjadikannya buta dalam membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Disaat seorang yang sedang kelaparan melakukan pencurian berupa makanan, atau melakukan pencopetan atau sejenisnya. Dia tidak akan merasa bersalah dengan keadaan dia saat itu, karena keterpaksaan yang membutakan dan menghalalkan segala cara untuk bertahan hidup. Adapun dalam skala yang lebih besar dalam organisasi, sosial maupun pemerintah. Dalam hal ini, banyak orang terpaksa mengikuti jalur yang sudah ada. Bila dalam komunitas yang tidak jujur, masuklah seorang yang jujur kedalamnya. Hanya dua kemungkinan yang akan terjadi, dia akan terpental dari komunitas tersebut karena tidak mungkin baginya mewarnai sebuah komunitas besar hanya oleh satu orang saja, kedua dia tetap bertahan dengan terpaksa mengikuti ketidak jujuran hanya karena ingin diakui dan menjadi salah satu anggota komunitas tersebut. Cinta Ini yang pernah kita alami, semasa masih mencari jadi diri dan masih belum bisa menentukan langkah. Bila kita sudah suka atau bahkan sudah cinta pada sesuatu atau seseorang, tak jarang orang dapat melakukan hal apapun untuk mendapatkan dan mempertahankannya. Jika itu benda seperti mobil misalnya, dan sudah benar-benar suka, maka bisa dipastikan dia akan berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkannya, dan akan sekuat tenaga pula untuk menjaga dan merawatnya. Bahkan lupa akan keluarganya, saking seriusnya merawat benda yang dicintainya tersebut, kemudian dia akan membenarkan tindakannya. Jika itu adalah seseorang, ini yang sangat sulit untuk diluruskan, karena cinta kepada seseorang selalu berurusan dengan hati, sedangkan hati tak ada yang menggunakan logika. Mencintai idola hingga menganggap idolanya tuhan, itu bukan urusan yang mudah untuk diluruskan. Mencintai seorang wanita/pria dengan menghalalkan segala cara, hingga berbuat maksiat, itu bukanlah sebuah kebenaran, dia dibutakan oleh cinta dan dia pun buta terhadap kebenaran yang sebenarnya. Bisa kita sebut cinta buta. Keberanian Benarkah keberanian dapat menentukan benar dan salah? Seseorang berani berargumen didepan seseorang maupun dihadapan banyak orang karena keberaniannya dalam berbicara, keberaniannya dalam bertindak. Faktor ini cukup besar, karena tanpa sebuah keberanian dalam mengungkapkan kebenaran, yang salah bisa dianggap benar. Contohnya hampir sama dengan kasus diatas mengenai santri pesantren yang #pacaran, dan para asatidz/asatidzah-nya tidak berani menyampaikan dan meluruskan tentang hal tersebut. Bila mereka diam seperti itu, maka kebenaran akan tertutup, dan yang salah akan dianggap benar. Itulah yang terjadi, aku mengalaminya sewaktu sekolah di pesantren. Nilai jual Faktor ini berpengaruh sangat global, karena menggunakan media, termasuk media sosial maupun media electronic. Sebuah televisi tidak akan menayangkan sebuah acara dengan nilai jual yang rendah, tentunya bila itu dilakukan mereka akan rugi besar. Maka dari itu mereka mencari sesuatu yang bernilai jual yang tinggi dan dapat menarik peminat para penonton di seluruh negeri bahkan di seluruh dunia. Mungkin anda pernah menonton acara yang monoton, yang itu-itu saja. Bukan karena mereka tidak punya acara lain, tapi mereka sedang menyuguhkan sesuatu yang akan mempengaruhi anda dan akan terekan dalam benak anda. Karena perlu kita ketahui, setiap kejadian yang berulang-ulang akan berkemungkinan besar berhasil mempengaruhi seseorang. Sama halnya yang dilakukan media, menampilkan acara atau berita yang akan membawa dampak menguntungkan bagi mereka. Kita akan ambil satu contoh, mengapa seorang artis yang baru dikenal langsung bisa tenar? Atau apa yang membuat seorang pejabat lebih terkenal dari pejabat lainnya? Media-lah penyebab segala dampak ini. Media mengekspos setiap sesuatu atau seseorang yang akan dapat menguntungkan mereka, yang mempunyai nilai jual yang tinggi, untuk mempengaruhi penonton. Akhirnya kala masyarakat sudah terpengaruhi, mereka akan terbutakan oleh pemberitaan-pemberitaan yang sebenarnya bukan fakta. Dalam hal ini, benar dan salah adalah sebuah bisnis, dan sebagai umpan supaya mendapatkan nilai jual yang tinggi. Malu Karena malu seseorang tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Siapakah dia? Bagi seroang muslim pasti tahu siapa dia, seorang yang berjuang bersama Rosul, membela #islam dengan harta dan tenaga, dia adalah paman Rosul, Abu Tholib. Hingga akhir hayatnya dia tak pernah berani mengucapkan dua kalimat syahadat karena malu. Begitulah bila rasa malu tertanam dalam diri hingga dapat mengalahkan imannya. Kebenaran terbeli hanya dengan perasaan malu. Ada pula istilah, "malu bertanya sesat di jalan". Bukan hanya tak dapat membedakan benar dan salah, namun malu dapat pula menyesatkan seseorang. Bila sudah terjadi, maka keadaan bisa bertambah parah, semakin tersesat. Begitulah, kebenaran menjauh karena malu tak mau bertanya kepada yang berilmu. Ada pula hadist Rosul saw. "malu sebagian dari pada iman". Itulah penentu kebenaran, malu dalam berbuat maksiat adalah tanda bahwa dia mencintai kebenaran. Perintah Faktor ini sering terjadi dalam militer, karena dalam sistem militer mengenal istilah "soldier obey" atau "prajurit patuh". Tak menghiraukan apa, kapan dan dimana, seorang prajurit harus patuh kepada komandannya, pertintah apapun itu. Jadi, dalamm sistem ini tidak ada prajurit yang salah, komandan-lah yang bertanggung jawab atas apa yang dilakukan prajurit, tak terkecuali prajurit itu patuh atau tidak. Yang terjadi selama ini memang seperti itu, semenjak beradaban kuno hingga sekarang, sistem ini tak pernah berubah. Bila prajurit membunuh tanpa alasan, bagi sistem ini hal itu sangat benar. Contohnya sering kita lihat dan sering kita dengar kabarnya dari berbagai media, seseorang dibunuh oleh kesatuan militer anu dan tanpa persidangan tanpa ada hak praduga tak bersalah. Hukum sering tidak berlaku bagi sistem seperti ini. Gengsi Ini adalah faktor yang paling mencintai dunia, dia dibutakan oleh salah satu daripada ini: harta, jabatan, wanita dan popularitas. Bagi orang yang mempunya sifat seperti ini akan sangat sulit meluruskan, artis yang berjuang demi mempertahankan popularitasnya, beradu gengsi dengan artis lainnya, pejabat yang tak mau kehilangan jabatannya, seorang yang tak mau terlihat kotor dihadapan wanita, atau yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan harta demi gengsi yang dia junjung tinggi. Dalam skala kecil adalah gengsi terhadap tetangga, dimana tetangga memiliki mobil baru, orang yang memiliki faktor ini akan merasa tersaingi dan tak mau kalah gengsi, apapun akan dilakukan. Maka sampai kapanpun, kebenaran takkan sampai pada orang yang memiliki faktor ini, terkecuali dengan izin Allah. Kebencian Dengan kebencian, orang dapat dibutakan dalam memandang seseorang. Jika sudah membenci seseorang, maka apapun yang dia katakan adalah salah, walaupun dia mengatakan sesuatu yang benar atau fakta. Atau bahkan dia akan melontarkan penghinaan saat seseorang yang dibencinya berkata kebenaran dari Allah. Seperti contoh yang terjadi pada zaman para nabi, mereka berjuang dalam berdakwah, namun apa yang mereka dapat adalah cacian dan hinaan, malah Nabi Muhammad saw. dilempari dengan batu oleh warga tho-if. Kemudian 'Uman Ibnu Khothob yang membenci Rosul, dan sebagai salah satu yang paling menentang atas kedatangan Islam. Namun dalam faktor ini, sangat dimungkin kan untuk berbalik arah, tergantung alasan apa mereka membenci, apakah karena gengsi? Ataukah karena malu? Atau karena terpaksa? Atau tak tahu apa-apa? Yang terjadi pada Nabi Muhammad saw. adalah karena mereka tidak tahu apa-apa, beda lagi dengan Abu Jahal yang benci karena serta merta gengsi, karena dalam faktor gengsi kebenaran takkan sampai kecuali dengan izin Allah. Sedangkan yang terjadi pada 'Umar dan warga Tho-if adalah karena tidak tahu dan mereka belum siap. Namun pada saat mereka sudah siap, merekapun menerima Islam sebagai agama mereka, bahkan melahirkan para pembela Islam kelas wahid dari warga ini. Pada dasarnya, kebencian adalah faktor minor dalam penentu kebenaran, karena ia dapat berubah tergantung alasan dasar dari kebencian tersebut. Entah berapa banyak lagi faktor penentu benar dan salah, karena bagi kebanyakan orang berbicara masalah kebenaran, maka mereka akan merujuk pada fakta dan sejarah, sementara fakta dan sejarah dapat dimanifulasi dengan seiringnya waktu. Namun tetaplah bagiku untuk berpegang teguh pada tali Allah, karena hanya satu yang benar dan tak pernah salah, dan takkan ada keraguan sedikitpun. Hanya Allah yang maha benar dan maha mengetahui.